Latest Entries »

Lamunanku terganggu saat angkot yang kutumpangi memasuki jalan yang rusak, begitu banyak lubang, kubangan air di sana sini. Badan terasa di goncang, kadang kepala terantuk ke kaca mobil, ditambah suspensi angkot yang sudah tidak nyaman melengkapi penderitaan saat itu. Perasaan kesal muncul ditambah gerutu yang sepontan keluar dari mulut saya, meskipun tidak keras,

“Sudah berbulan-bulan nggak diperbaiki pula, apa tidur nich para pejabat DPU? Atau pura-pura nggak tahu?”

Meskipun suara saya kecil, tetapi cukup untuk membuat senyum orang yang tepat ada di depanku. Tetapi entah apa arti senyum itu, entah setuju, entah tidak setuju, atau jangan-jangan dia pegawai DPU?????(Wadhuh!)
Itulah manusia (setidaknya saya) sering perasaan kecewa akan muncul saat kita mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan, protes dan mengeluh, namun saya lupa, pada saat saya melewati jalan mulus saya lupa untuk berterima kasih atau bersyukur karena mendapatkan jalan yang baik, yang nyaman. Padahal jalan yang baik jauh lebih panjang dari jalan yang jelek tadi.
Peristiwa tadi hanya salah satu contoh, orang akan sadar bahwa dia mendapat kenikmatan setelah kenikmatan tersebut hilang. Saat kenikmatan itu ada seakan-akan kita tidak mendapatkan apa-apa. Cuek saja, jangankan shalat syukur, mengucapkan Alhamdulillah saja kita sering lupa.
Kita baru sadar nikmatnya sehat setelah kita sakit, kita baru sadar nikmat uang gaji meskipun sedikit saat kita kehilangan gaji tersebut, kita baru sadar nikmatnya memakai sendal saat sendal kita hilang dicuri orang dan kita berjalan dengan kaki telanjang dan masih sangat banyak bahkan tidak terhitung nikmat yang selalu kita terima, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap saat, cuma sayang kebanyakan orang sering lupa, banyak yang hanya bersyukur saat kembalinya nikmat yang hilang atau mendapat nikmat yang jarang datang, kita sering lupa mensyukuri nikmat yang kita rasakan setiap saat.
Saat kita mendapatkan hadiah kita mengucapkan Alhamdilillah, tetapi seberapa seringkah Anda mensyukuri tiap nafas Anda? Tiap detak jantung anda?

Perjalanan panjang bangsa ini merebut kemerdekaan sesungguhnya adalah tapak sejarah perjalanan dakwah. Kekuatan yang tumbuh melakukakn perlawanan terhadap kolonialisme berabad-abad lamanya, bersumber dari wahyu Risalah: Dinul Islam sumber kekuatan utama mayoritas bangsa, dan mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan yang kita raih: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” (Mukaddimah UUD ’45)

Tidak kurang dari tokoh seperti Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah kolonial Belanda menyampaikan sarannya kepada pemerintah kolonial Belanda (Dutch Islamic Policy) dengan tujuan mematahkan perlawanan ummat Islam. Antara lain Snouck Hurgronje menyarankan. “Yang harus ditakuti pemerintah (maksudnya pemerintah Belanda, pen) bukanlah Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik. Biasanya dipimpin small-minority yang fanatik, yakni ulama yang membaktikan hidupnya terhadap cita-cita Pan Islamisme.

Golongan ulama ini lebih berbahaya kalau pengaruhnya meluas kepada petani di desa-desa. Karena itu disarankan supaya pemerintah bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan sebaliknya bertindak tegas terhadap Islam sebagai doktrin politik.”

Pemerintah Belanda harus menyempitkan ruang gerak dan pengaruh Islam. Hal ini dapat dicapai melalui kerjasama kebudayaan Indonesia Belanda. Ini dapat dimulai dengan memperalat golongan priyayi yang selalu berdekatan dengan pemerintah, karena kebanyakan menjabat sebagai PAMONG PRAIA. Untuk memperlancar usaha tersebut dengan mendidik golongan priyayi dengan pendidikan barat ( lihat. J. Benda: The Crescent and the Rising Sun ).
View full article »

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.